Mayat balita tanpa kepala yang ditemukan di saluran drainase Kota Samarinda

Kapolresta Kota Samarinda, Kombes Arif Budiman, mengatakan kepada wartawan bahwa bocah tersebut diduga tewas setelah "tercebur di parit". Dia menegaskan tidak ditemukan indikasi pembunuhan.

"Kita tidak mau berasumsi macam-macam karena sampai saat ini belum ditemukan adanya pembunuhan, mutilasi," ujar Arif, (19/20).

Sepasang suami-istri menyebut jenazah balita tanpa kepala itu adalah anak mereka yang hilang dua pekan lalu setelah dititipkan di sekolah usia dini.

Sepasang suami istri, Bambang Sulistyo (37) dan Melisari (30), mengklaim balita yang ditemukan tewas tanpa kepala itu adalah anak kandung mereka yang bernama Yusuf Achmad Ghazali.

Mereka menyebut Yusuf yang berusia empat tahun ini hilang  lalu setelah berkegiatan di PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) Jannatul Athfaal.

Mereka menyebut mengenali jasad itu sebagai Yusuf melalui baju terakhir yang dipakai anak mereka.

Saat terakhir kali terlihat beraktivitas Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Jannatul Athfaal, Yusuf disebut memakai baju merah berlengan hitam dan bergambar tugu Monas.

"Kami sudah tidak mengenali fisik. Namun pakaian yang digunakan mendekati kemiripan bahwa itu keponakan kami yang hilang dua minggu lalu," kata Lukman, yang mengklaim sebagai paman Yusuf.

Berdasarkan penyelidikan sementara, kepolisian menduga mayat balita adalah Yusuf— yang terjerembab ke dalam parit sejauh 20 meter dari PAUD.

"Di depan rumah penitipan itu lebih-kurang 20 meter itu ada parit. Kemungkinan anak ini berjalan melihat keluar, anak kecil empat tahun mungkin tidak lihat parit akhirnya jatuh," papar Kapolresta Kota Samarinda, Kombes Arif Budiman, (19/20).

"Dari jarak antara rumah penitipan ke sini itu lebih-kurang 4,5 km," imbuhnya

Lokasi penemuan balita tanpa kepala dan PAUD Jannatul Athfaal terhubung lewat drainase Karang Asam Kecil. Total ada empat sistem drainase di Samarinda. Semua sistem itu terhubung ke Sungai Mahakam dengan ketinggian drainase beragam. Adapun kedalaman parit penemuan mayat balita berkisar satu hingga dua meter.

Sebelumnya, Kepala PAUD Jannatul Athfaal, Mardiana, saat Yusuf hilang, kondisi di PAUD sedang hujan deras.

Selang 16 hari kemudian, jasad balita tanpa kepala ditemukan di parit Jalan Antasari, Samarinda Ulu, sekitar pukul 05.30 Wita.

Melalui hasil pemeriksaan forensik polisi, ditemukan kulit reptil pada mayat bayi tanpa kepala.

"Kenyataannya memang badannya tidak utuh. Kita sudah koordinasi dan panggil ahli forensik untuk menjelaskan bahwa sementara yang didapat adalah di dalam tubuh anak ini ada kulit reptil," papar Kapolresta Kota Samarinda, Kombes Arif Budiman, Selasa (19/20).

Arif masih menunggu pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui apakah mayat balita dimakan reptil.

"Dalam perjalanannya 16 hari itu kan jasadnya lembek udah kena air, mungkin digigit binatang, tergerus batu, ranting-ranting sehingga saat ditemukan sudah tidak utuh lagi jasad Yusuf," imbuhnya.

Kepolisian menyelidiki dugaan kelalaian PAUD atas pengawasan balita yang dititipkan orang tuanya.

"Dugaan sementara ya memang anak ini tercebur akibat kelalaian pengasuh di rumah penitipan anak itu. Karena pengasuh ini ke toilet lima menit, anak ini menghilang, sudah diupayakan mencari saat itu juga tidak ketemu," ujar Kapolresta Samarinda, Kombes Arif Budiman, kepada wartawan, Selasa (19/20).

"Kita juga akan menyelidiki ke tempat awal sekolah penitipan. Apakah di sini ada unsur lainnya atau ada motif lain itu masih dalam penyelidikan. Kita sudah memeriksa beberapa saksi dengan demikian motif kelalaian itu di mana, kita harus lengkap (bukti)," sambungnya.

Dari keterangan saksi, balita Yusuf sempat ditinggalkan di salah satu ruangan sekitar lima menit di PAUD Jannatul Athfaal, Jl AW Syahranie, Samarinda. Saat balita Yusuf hilang, guru PAUD mencari-cari ke sekitar.

Polisi menyiapkan sangkaan Pasal 359 KUHP.

"Kelalaian (yang) mengakibatkan orang lain meninggal dunia," jelas Arif.

Jasad balita tanpa kepala pertama kali ditemukan di saluran drainase Jalan Pangeran Antasari II, Teluk Lerong Ilir, Samarinda, Kalimantan Timur, Minggu (19/20) pukul 05.30 Wita.

Yang menemukannya adalah warga setempat, bernama Ika (40 tahun).

Ika berkata, awalnya ia mengira jasad itu boneka. Namun setelah mengecek bersama suaminya, Ika melihat jasad balita yang tak memiliki kepala, kaki dan tangan.

Ika dan suaminya lantas melapor ketua RT. Laporan itu diteruskan ke Polsek Samarinda Ulu.

Satu jam setelah penemuan, anggota kepolisian mengevakuasi jasad itu ke ruang jenazah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdul Wahab Syaharie.

Sepasang suami istri, Bambang Sulistyo (37) dan Melisari (30), datang ke RSUD Abdul Wahab Syaharie sekitar pukul 11.00 Wita.

Setelah menunggu jenazah dibersihkan petugas rumah sakit, sekitar pukul 16.30 WITA, keduanya melihat jasad lalu mengakuinya sebagai anak mereka yang hilang.

Suami istri itu mengatakan jasad itu adalah anak kandung mereka yang bernama Yusuf Achmad Ghazali.

Pasangan Bambang Sulistyo dan Melisari menyebut Yusuf hilang dua pekan lalu setelah berkegiatan di PAUD Jannatul Athfaal.

Sejumlah guru di sekolah itu berkata bahwa Yusuf menghilang setelah bermain dengan enam bocah lain dalam kelas.

Semua murid saat itu disebut tengah menunggu jemputan orang tua masing-masing.

Kepala PAUD Jannatul Athfaal, Mardiana, berkata saat Yusuf dan kawan-kawannya bermain, mereka luput dari pengawasan guru.

Saat Yusuf menghilang, Samarinda diguyur hujan lebat.

Pada Senin (19/10), sebanyak 22 adegan diperagakan orang-orang yang terakhir kali beraktivitas dengan Yusuf.

Proses prarekonstruksi itu mencakup ruangan PAUD hingga ke akses jalan masuk.

Enam pegawai PAUD dilibatkan, termasuk Kepala PAUD Mardiana. Damus mengatakan pra rekonstruksi dilakukan guna menguatkan kronologis awal hilangnya Yusuf.


Belum ada Komentar untuk "Mayat balita tanpa kepala yang ditemukan di saluran drainase Kota Samarinda"

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel